Assalamu'alaikum Warrohmatullahi WabarokatuhSELAMAT DATANG PARA PENGUNJUNG DI BLOG PENDIDIKSemoga Blog Ini Bisa BERMANFAAT Selamat Membaca
Blog Pendidik /

Senin, 05 Mei 2008

Kepribadian pada Wallpaper PC


Para ahli psikologi berpendapat bahwa wallpaper desktop atau layar komputer bisa mengungkap banyak tentang kepribadian pemilik atau pengguna komputer. Jika anda ingin mengetahui kepribadian seseorang maka lihatlah wallpaper atau screen saver komputernya. Karena screen saver dan wallpaper yang anda pilih untuk komputer akan selalu anda lihat sehingga mampu mengungkapkan kepribadian dan pikiran anda yang terdalam, simak berikut ini.
Gambar pemandangan alam menandakan anda berusaha keras untuk meraih kesuksesan. Orang yang memilih gambar pemandangan alam biasanya bukan orangyang tenang, tidak ingin pusing tapi cenderung bersemangat dan bekerja keras untuk sukses. Kemungkinan anda memiliki banyak stres dalam hidup ini. Memandangai gambar yang menenangkan akan membantu anda menghadapi tekanan. Melihat pemandangan alam merupakan cara anda untuk mendapatkan ketenangan.
Foto keluarga dan teman teman menadakan anda mudah dihibur atau disenangkan. Anda berorientasi pada keluarga dan biasanya mengikuti arus. ANda cenderung tidak pencemas dan memiliki banyak kesabaran untuk orang-orang lain. Memasang foto-foto ini di dekat anda sehingga mengingatkan anda tentang sesuatu yang benar-benar penting. ANda merasa lebih mudah mengatasi stres jika memandangi orang yang anda sayangi. Gambar ini membuat anda berpijak pada realita dan merasa aman.
Gambar hewan menandakan anda optimistik. Jika anda memilih gambar anak kucing, anak anjing atau hewan lainnya yang lucu untuk layar komputer anda maka anda enderung memandang dunia dengan kacamata warna cerah. Anda bukan hanya hangat, sentimental dan baik hati tapi biasanya juga memandang segala sesuatu dengan penuhharapan. Anda secara umum bahagia, berapapun usia anda maka anda akan selalu memiliki sifat innocence.
Gambar angkasa luar menandakan anda perencana. Jika orang melihat gambaran besar maka anda melihat gambar yang benar-benar besar. Pada kenyataannya, anda berpikir dua langkah di depan setiap orang lainnya. Anda selalu merencakana masa depan, anda berpikir cepat, memiliki rasa ingin tahu yang besar tentang dunia sekeliling anda dan anda suka membaca tentang apa saja.
Pemandangan kota tertentu menandakan anda romantis. Anda bukan hanya senang bepergian dan bertualang tapi juga sering menggunakan gambar ini untuk membuat anda tetap bersemangat dan optimistik di sepanjang hari. Gambar ini mengingatkan anda setiap hari tentang tempat-tempat yang pernah anda kunjungi dan sukai atau tempat yang ingin anda kunjungi. Memandangi gambar ini membuat anda merasa bahagia.
Gambar kartun menandakan bahwa anda mengerjakan berbagai tugas pada saat bersamaan atau multitasker. Hidup anda kemungkinan dipenuhi dengan berbagai tanggungjawab dan anda bisa menyelesaikan semuanya. Agar bisa menjalani semua tugas ini dengan hati ringan, anda mencoba mencari sesuatu yang bisa membuat anda tersenyum. Melihat gambar tokoh-tokoh kartun hanya salah satu cara kecil untuk mengingatkan anda tentang masa kanak-kanak dan masa muda yang tidak memiliki beban dan pikiran. Memandangi gambar ini mengingatkan anda tentang kegembiraan masa kanak-kanak dan anda menggunakannya untuk membuat setiap hari menjadi lebih cerah.
Gambar spiritual menandakan anda percaya pada diri sendiri dan kemampuan anda. Anda mungkin gambar budha, gambar malaikat atau tokoh spiritual seperti Bunda Theresa sebagai wallpaper anda. Spiritual itu penting tapi anda juga memiliki kehidupan yang padat dan sibuk. Memilih gambar ini sebagai screen saver komputer anda merupakan sumber kekuatan dan kebahagiaan anda. Memandangi gamabar malaikat pelindung di layar komputer menimbulkan rasa tenang. Gambar ini mengingatkan anda di hari-hari yang penuh stres bahwa anda tidak sendiri.
Apakah anda sesuai dengan hasil survey diatas? Tapi, ini bukanlah sesuatu untuk diyakini. Artikel ini hanyalah untuk motivasi Anda.

diambil dari http://www.sekolahkami.com/

Rabu, 30 April 2008

MEMANFAATKAN WAKTU LUANG DAN KESEHATAN UNTUK TAAT KEPADA ALLAH SWT


Anda tidak boleh menyia-nyiakan kesehatan dan waktu luang untuk tidak taat pada ALLAH s.w.t dan hanya bergantung sepenuhnya kepada amalan yang telah lalu,. Berusahalah untuk memanfaatkan kesehatan, dan bekerja keraslah untuk memanfaatkan kesehatan. karena tidak setiap waktu bisa memberikan yang terbaik, dan setiap yang luput bisa di dapatkan kembali.
Dalam waktu luang itu ada penyimpangan tau epnyesalan, dan dalam kesen- dirian ada kecenderungan atau keresahan.
Umar ibn Khaththab pernah berkata “ Bagi kaum laki-laki diam itu adalah kelalaian, sedangkan bagi kaum wanita adalah nafsu yang membara.”
Bazarjamber mengatakan “ Jika kesibukan itu akan menyebabkan kecapaian, maka waktu kosong akan menimbulkan pembusukan.
Yang lain mengatakan ‘ Jangan kau kira biarkan harimu berlalu tanpa manfaat, dan jangan tanamkan hartamu pada suatu yang tidak produktif.sebab, umur itu terlalu pendek untuk kau sia-saikan, dan harta itu terlalu sedikit untuk kau simpan dalam hal-hal yang tidak produktif. Terlalu disayangkan bagi orang yang berakal untuk menghabiskan waktunya dalam hal-hal yang tidak tidak bisa dia ambil manfaat dan kebaikannya, dan membelanjakan hrtanya untuk hal-hal yang tidak menghasilkan pahala dan ganjaran
Nabi Isa a.s pernah berkata ,”Kebaikan itu ada tiga : ucapan, penglihatan, dan diam. barangsiapa yang mengucapkan selain dzikir, maka dia telah melakukan sesuatu yang si-sia.barangsiapa yang memandang tidak untuk mengambil pelajaran, maka sesungguhnya dia telah lupa. Barangsiapa yang diamnya tidak karena berpikir tentang kebenaran, maka dia telah tenggelam dalam ketidak seriusan

Dari MithaAyu

Jumat, 04 April 2008

KISAH YU TIMAH


(dicuplik dari RESONANSI - Republika Desember 2006/Ahmad Tohari)


Ini kisah tentang Yu Timah. Siapakah dia? Yu Timah adalah tetangga kami. Dia salah seorang penerima program Subsidi Langsung Tunai (SLT) yang kini sudah berakhir. Empat kali menerima SLT selama satu tahun jumlah uang yang diterima Yu Timah dari pemerintah sebesar Rp 1,2 juta. Yu Timah adalah penerima SLT yang sebenarnya. Maka rumahnya berlantai tanah, berdinding anyaman bambu, tak punya sumur sendiri. Bahkan status tanah yang di tempati gubuk Yu Timah adalah bukan milik sendiri. Usia Yu Timah sekitar lima puluhan, berbadan kurus dan tidak menikah.


Barangkali karena kondisi tubuhnya yang kurus, sangat miskin, ditambah yatim sejak kecil, maka Yu Timah tidak menarik lelaki manapun. Jadilah Yu Timah perawan tua hingga kini. Dia sebatang kara. Dulu setelah remaja Yu Timah bekerja sebagai pembantu rumah tangga di Jakarta. Namun, seiring usianya yang terus meningkat, tenaga Yu Timah tidak laku di pasaran pembantu rumah tangga. Dia kembali ke kampung kami. Para tetangga bergotong royong membuatkan gubuk buat Yu Timah bersama emaknya yang sudah sangat renta. Gubuk itu didirikan di atas tanah tetangga yang bersedia menampung anak dan emak yang sangat miskin itu.


Meski hidupnya sangat miskin, Yu Timah ingin mandiri. Maka ia berjualan nasi bungkus. Pembeli tetapnya adalah para santri yang sedang mondok di pesantren kampung kami. Tentu hasilnya tak seberapa. Tapi Yu Timah bertahan. Dan nyatanya dia bisa hidup bertahun-tahun bersama emaknya.


Setelah emaknya meninggal Yu Timah mengasuh seorang kemenakan. Dia biayai anak itu hingga tamat SD. Tapi ini zaman apa. Anak itu harus cari makan. Maka dia tersedot arus perdagangan pembantu rumah tangga dan lagi-lagi terdampar di Jakarta. Sudah empat tahun terakhir ini Yu Timah kembali hidup sebatang kara dan mencukupi kebutuhan hidupnya dengan berjualan nasi bungkus. Untung di kampung kami ada pesantren kecil. Para santrinya adalah anak-anak petani yang biasa makan nasi seperti yang dijual Yu Timah.


Kemarin Yu Timah datang ke rumah saya. Saya sudah mengira pasti dia mau bicara soal tabungan. Inilah hebatnya. Semiskin itu Yu Timah masih bisa menabung di bank perkreditan rakyat syariah di mana saya ikut jadi pengurus. Tapi Yu Timah tidak pernah mau datang ke kantor. Katanya, malu sebab dia orang miskin dan buta huruf. Dia menabung Rp 5.000 atau Rp 10 ribu setiap bulan. Namun setelah menjadi penerima SLT Yu Timah bisa setor tabungan hingga Rp 250 ribu. Dan sejak itu saya melihat Yu Timah memakai cincin emas. Yah, emas. Untuk orang seperti Yu Timah, setitik emas di jari adalah persoalan mengangkat harga diri. Saldo terakhir Yu Timah adalah Rp 650 ribu.


Yu Timah biasa duduk menjauh bila berhadapan dengan saya. Malah maunya bersimpuh di lantai, namun selalu saya cegah.
”Pak, saya mau mengambil tabungan,” kata Yu Timah dengan suaranya yang kecil.
”O, tentu bisa.
Tapi ini hari Sabtu dan sudah sore. Bank kita sudah tutup. Bagaimana bila Senin?”
”Senin juga tidak apa-apa. Saya tidak tergesa.”
”Mau ambil berapa?” tanya saya.
”Enam ratus ribu, Pak.”
”Kok banyak sekali. Untuk apa, Yu?”
Yu Timah tidak segera menjawab. Menunduk, sambil tersenyum malu-malu.
”Saya mau beli kambing kurban, Pak. Kalau enam ratus ribu saya tambahi dengan uang saya yang di tangan, cukup untuk beli satu kambing.”


Saya tahu Yu Timah amat menunggu tanggapan saya. Bahkan dia mengulangi kata-katanya karena saya masih diam. Karena lama tidak memberikan tanggapan, mungkin Yu Timah mengira saya tidak akan memberikan uang tabungannya. Padahal saya lama terdiam karena sangat terkesan oleh keinginan Yu Timah membeli kambing kurban.


”Iya, Yu. Senin besok uang Yu Timah akan diberikan sebesar enam ratus ribu. Tapi Yu, sebenarnya kamu tidak wajib berkurban. Yu Timah bahkan wajib menerima kurban dari saudara-saudara kita yang lebih berada. Jadi, apakah niat Yu Timah benar-benar sudah bulat hendak membeli kambing kurban?”
”Iya Pak. Saya sudah bulat. Saya benar-benar ingin berkurban. Selama Ini memang saya hanya jadi penerima. Namun sekarang saya ingin jadi pemberi daging kurban.”
”Baik, Yu. Besok uang kamu akan saya ambilkan di bank kita.”
Wajah Yu Timah benderang. Senyumnya ceria. Matanya berbinar. Lalu minta diri, dan dengan langkah-langkah panjang Yu Timah pulang.


Setelah Yu Timah pergi, saya termangu sendiri. Kapankah Yu Timah mendengar, mengerti, menghayati, lalu menginternalisasi ajaran kurban yang ditinggalkan oleh Nabi Ibrahim? Mengapa orang yang sangat awam itu bisa punya keikhlasan demikian tinggi sehingga rela mengurbankan hampir seluruh hartanya? Pertanyaan ini muncul karena umumnya ibadah haji yang biayanya mahal itu tidak mengubah watak orangnya.


Mungkin saya juga begitu. Ah, Yu Timah, saya jadi malu. Kamu yang belum naik haji, atau tidak akan pernah naik haji, namun kamu sudah jadi orang yang suka berkurban. Kamu sangat miskin, tapi uangmu tidak kaubelikan makanan, televisi, atau pakaian yang bagus. Uangmu malah kamu belikan kambing kurban. Ya, Yu Timah. Meski saya dilarang dokter makan daging kambing, tapi kali ini akan saya langgar. Saya ingin menikmati daging kambingmu yang sepertinya sudah berbau surga. Mudah-mudahan kamu mabrur sebelum kamu naik haji.


Lebih Baik Memberi Dari pada Menerima